|
H E B O H F L U B U R U N G
Sejak MENKES mengumumkan adanya peningkatan korban Flu Burung pada manu-sia di Indonesia pada bulan Januari 2007 ini menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami kepanikan yang luar biasa dan mereka menjadi takut terhadap sa;wa unggas.
Rasa panik semakin bertambah ketika diterbitkannya peraturan Gubernur OKI Jakarta, yang melarang memelihara unggas di pcmukiman. Menurut peraturan Gubernur OKI Nomer 5 Tahun 2007, masyarakat diminta untuk meniadakan semua ternak unggas di pemukiman hingga 31 Januari 2007, dan setelah itu unggas tidak boleh lagi dipelihara di pemukiman atau dimusnahkan oleh pemerintah.
Ayam, itik, entok, angsa, merpati dan burung puyuh yang sehat sebaiknya dijual ataupun dikonsumsi, sedangkan yang sakit harus dimusnahkan. Unggas bias atau yang dipelihara sebagai hobi dan penelitian diwa-jibkan memiliki sertifikat kesehatan hewan dari Dmas Peternakan.
Kepanikan masyarakat dan pemerintah muncul mungkin disebabkan kurangnya mformasi yang lengkap dan akurat tentang Flu Burung. Ditambah lagi dengan adanya berita media masa (Koran dan TV) yang terus menerus memberitakan Flu Burung tanpa dasar pengetahuan ilmiah yang kuat sehingga cenderung menambah keresahan masyarakat..
Ketakutan masyarakat pada satwa burung muncul ketika DEPKES mengumumkan bahwa virus Avian Influenza A subtype H5N1, dapat menyerang manusia dan telah memakan 62 korban jiwa di Indonesia. Apakah hasil diagnosa Flu Burung di Indonesia oleh WHO Hongkong dapat dipercaya? Apakah tindakan pemerintah dengan mencanangkan Gerakan Nasional Tumpas Avian Influenza (GENTA) dengan melakukan vaksinasi masal dan pemusnahan unggas termasuk merpati, perkutut', derkuku dan burung liar serta burung ocehan lainnya sudah benar dan bijaksana?
Tulisan ini sengaja dibuat untuk mem-berikan masukaTi pada masyarakat dan pemerintah agar dapat menyikapi kasus Flu Burung di Indonesia dengan bijaksana dan tidak menimbulkan kerugian pada masyarakat.
BUKAN VIRUS BARU
Wabah virus Avian Influenza (Al) tipe A subtype H5N1 pada unggas'di Indonesia muncul pertama kali tahun 2003, akan tetapi dunia Kedokteran Hewan telah men-genali virus Al pertama kali di Italia tahun 1878. Sebelum mewabah di Indonesia virus Al H5N1 lebih dulu telah mewabah dan menimbulkan kerugian ekonomi di sektor peternakan di negara maju misalnya Skotlandia (1959), Amerika (1929, 1983, 1984), Australia (1975, 1985, 1994), Inggris (1979), Irlandia 1983, 1984), dan negara lainnya (Belanda, Jerman, Israel, Afrika Selatan, Rusia, Kanada, Yunani, Hongkong, China, Jepang, Korea Selatan).
Virus Al H5N1 dikenal sebagai highly pathogenic avian influenza memang sangat berbahaya bagi unggas terutama ayam, burung puyuh, dan kalkun karena penu-laran dan kematian unggas yang terinfeksi virus ini dapat mencapai 100%. Virus ini telah menyebabkan kerugian yang sangat besar dibidang peternakan ayam, kalkun, dan burung puyuh di berbagai negara termasuk di Indonesia.
Unggas air misalnya bebek, angsa, beli-bis, itik yang hidup liar di danau ataupun unggas air yang hidup di laut terbukti dapat membawa virus Al H5N1 sehingga unggas air dikenal sebagai reservoir virus Al H5N1. Unggas air tersebut dapat hidup sehat dan normal, meski di dalam tubuh unggas itu membawa virus Al H5N1.
Bahkan para peneliti di Eropa, telah dapat mengisolasi/menemukan virus tersebut dari feses segar di danau yang berasal dari unggas air yang hidup di danau tersebut. Fakta tersebut memberikan gambaran pada kita, bahwa virus Al sebenarnya sudah ratusan tahun ada di sekitar kita atau telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Tampaknya pemerintah dan sebagian masyarakat menganggap bahwa virus Al H5N1 menyerang semua unggas tanpa terkecuali. Pengertian tersebut kurang benar karena hingga saat ini tidak ada/belum ada bukti ilmiah yang meny-atakan bahwa virus Al H5N1 dapat mengin-feksi merpati, derkuku, perkutut, cucak rowo, cendet, kutilang, anis merah, kenari, atau unggas liar misalnya burung gereja, prenjak, ciblek, burung bondol, burung sriti ataupun burung wallet serta burung liar lainnya.
Jika adanya pemusnahan merpati; derkuku, perkutut, kutilang, kenari dan burung ocehan lainnya oleh petugas pemerintah di lapangan, hal tersebut merupakan tindakan yang kurang tepat dan cenderung merugikan masyarakat.
Tuhan menciptakan burung di bumi ini bukan untuk menimbulkan bencana bagi manusia, akan tetapi untuk memberikan kenikmatan dan berkah bagi manusia. Di alam burung burung pemakan serangga misalnya wallet, seriti, cucakrowo, murai batu dan burung lainnya telah membantu petani dengan memakan serangga serangga yang merugikan petani. Burung hantu, elang dan burung pemakan daging lainnya juga telah terbukti membantu petani dalam membasmi tikus yang sering merugikan petani.
Merpati yang hidup bebas di berbagai kota besar negara Eropa misalnya Madrid, Munich, London, Istambul, Paris, telah dipakai sebagai indikator biologik yang tepat untuk mendeteksi adanya pence-maran racun timbal di udara yang berasal dari gas kendaraan bermotor.
Ayam, kalkun, burung puyuh, itik, entok sudah ribuan tahun menjadi peli-haraan rakyak kecil sebagai tabungan atau "Rojo Koyo" yang dapat mencukupi kebu-tuhan hidup mereka. Akan sangat bijaksana, jika pemerintah bersedia mengkaji ulang kebijakan pemusnahan unggas sehat di daerah tertentu agar tidak merugikan masyarakat.
VIRUS MUDAH MATI
Virus Al H5N1 yang menyerang ayam, kalkun dan burung puyuh akan dikeluarkan melalui feses, leleran hidung atau leleran mata. Para peneliti melaporkan bahwa virus avian influenza sangat labil, dan mudah rusak atau mengalami kematian.
Di luar tubuh hewan, virus Al akan mati pada lingkungan yang kering atau terkena sinar matahari. Para penghobi burung mempunyai kebiasaan yang sangat baik yaitu menjemur burungnya setiap hari, dan tindakan ini tentu saja akan men-jauhkan burung dari serangan virus Al H5N1.
Detergent, disinfektan, yodium dan alkohol juga dapat membasmi virus tersebut dalam sekejap. Virus akan-mati dengan pemanasan 80 C selama 1 menit atau pem-anasan dengan suhu 70 C selama 3 menit. Daging ayam, telur dan semua produk yang berasal dari unggas, sangat aman untuk dikonsumsi oleh manusia jika produk tersebut telah direbus/dimasak-dengan pemanasan 80 C. •
MUNGKIHKAH VIRUS Al H5N1
DARI AYAM MENULAR KE MANUSIA?
Saat ini sebagian besar masyarakat dan pemerintah percaya bahwa virus Al H5N1 yang berasal dari ayam dapat menular ke manusia. Pengertian tersebut berasal dari hasil pemeriksaan di laboratorium WHO di Hongkong dan laporan DEPKES.
Akan tetapi ada penelitian lain di Jerman yang menyatekan bahwa virus Al H5N1 yang berasal dari ayam tidak bisa menular pada manusia. Jadi adanya laporan dari WHO dan dari DEPKES yang menyatakan bahwa virus dari ayam dapat menular pada manusia merupakan satu topik yang belum final dan masih dapat diperdebatkan/dibuktikan lebih lanjut.
Peneliti dari Jerman melaporkan bahwa pada dasarnya virus Avian influenza yang berasal dari ayam tidak bisa menular ke manusia secara langsung karena adanya perbedaan reseptor/titik tangkap antara sel unggas dan sel manusia.
Titik tangkap/reseptor virus Al H5N1 pada permukaan sel ayam adalah sialic acid a 2,3 yang cocok dengan Haemaglutinin virus Al H5IM1, sehingga virus Al H5N1 dapat melekat dan kemu-dian menginfeksi sel ayam. Permukaan sel pernafasan manusia memiliki/didominasi reseptor sialic acid a 2,6 yang tidak cocok dengan Haemaglutinin virus Al H5N1, sehingga virus Al H5N1 yang berasal dari ayam tidak dapat melekat dan menginfeksi sel manusia.
Virus Al H5N1 memiliki neurominidase (N), yaitu suatu enzim yang berfungsi untuk menembus permukaan sel unggas, agar materi genetic RNA virus dapat masuk ke sel unggas. Hasi! penelitian juga menunjukkan bahwa neurominidase virus Al yang berasal dari ayam tidak mempunyai kemampuan menembus sel permukaan manusia, sehingga materi genetic RNA virus tidak dapat masuk ke dalam sel manusia.
Informasi tersebut menguatkan data di lapangan bahwa sejak virus Al mewabah pada ayam pertama kali di Italia pada tahun 1878 hingga kini para dokter hewan, pekerja kandang ayam, pemotong dan penjual ayam serta pemelihara burung, para peneliti virus Al H5N1 di laboratorium di Indonesia tidak ada yang menjadi korban virus Al H5N1.
Jika virus Al H5N1 dapat menginfeksi manusia, maka para pe; kerja tersebut yang setiap hari selalu kontak dengan unggas ataupun kontak dengan virus di laboratorium merupakan individu yang berpeluang besar menjadi korban keganasan virus Al H5N1. Mere-kalah yang mestinya pertama kali menjadi korban.
KEJANGGALAN KORBAN FLU BURUNG PADA MANUSIA
Ada suatu kejanggalan yaitu bahwa korban virus Al di dunia tidak ada yang berasal dari Negara maju (Amerika, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Italia, Kanada, Israel, Australia, dll). Hal ini sangat menarik, karena wabah virus Al H5R1 pada ayam sebenarnya telah terjadi lebih dulu di negara negara maju dibanding di Indonesia akan tetapi mengapa virus Al H5N1 tidak memakan korban jiwa di negara yang maju.
Mengapa pada data di atas virus Al H5N1 hanya menyerang manusia di negara negara berkembang yang kurang disukai oleh Amerika dan blok Barat. Mengapa Al H5N1 juga hanya menyerang manusia di negara Turki yang merupakan salah satu negara Islam yang belum bisa menjadi anggota Uni Eropa?
Kejanggalan korban virus Al pada manusia semakin nyata ketika para korban virus Al H5N1 di Indonesia tidak per-nah kontak langsung dengan unggas. Dari mana asal virus Al yang menginfeksi para penderita/korban? Kenapa bukan pekerja kandang ayam, pemelihara burung yang bahkan tiap hari tidur seru-ang dengan burung, juga para dokter hewan dan pekerja laboratorium yang tiap hari bergumul dengan virus. Para pekerja tersebut merupakan individu beresiko tinggi terinfeksi virus karena setiap hari telah kontak dengan ayam, dan mungkin sudah berulangkali kontak dengan virus Al, akan tetapi di antara mereka tidak ada yang dila-porkan terinfeksi virus Al. Fakta ini mendukung penda-pat bahwa virus Al H5N1 tidak bisa menular ke manusia karena adanya perbedaan reseptor pada sel unggas dan manusia.
Kasus Flu Burung menjadi suatu isu yang menakutkan dunia ketika WHO menyerukan perkirakan terjadinya pande-mi Al di seluruh.dunia. Teori pandemi virus Al telah disebar luaskan oleh berba-gai media masa nasional dan internasion-al, sehingga hampir sebagian besar masyarakat dunia menjauhi dan menjadi takut dengan unggas dan satwa burung.
Dugaan keganasan virus Al H5N1 dapat dibandingkan dengan keganasan virus Rabies yang biasa menyerang anjing, kucing dan manusia. WHO pada Februari 2006 melaporkan bahwa kematian manusia di seluruh dunia akibat Rabies setiap tahunnya sebanyak 55.000 orang, korban terutama berasal di Afrika dan Asia terma-suk di Indonesia.
Penyakit yang sering memakan korban di Indonesia setiap tahunnya juga dicatat oleh WHO misalnya penyakit Demam Berdarah. WHO 2005 melaporkan bahwa di Indonesia ada 72.133 orang yang menderita Demam Berdarah dan 1414 orang diantaranya mengalami kematian pada tahun 2004.
Meski memakan korban jauh lebih besar, dan tiap tahun selalu terulang sik-lus penyebarannya, tapi baik rabies maupun DB tidak menarik perhatian dunia sebagaimana flu burung.
KEJANGGALAN DIAGNOSA POSITIP FLU BURUNG
Diagnosa positip terinfeksi virus Al H5N1 pada para penderita di Indonesia pada mulanya didasarkan atas hasil pemeriksaan yang dikerjakan oleh peneliti di WHO, akan tetapi saat ini telah dilakukan sendiri oleh DEPKES. Apakah pengumuman dari pemerintah dan hasil penelitian dari WHO di Hongkong dapat dipercaya? Betulkan para korban mening-gal karena virus Al H5N1 ? Tidak adakah penyebab lainnya dari kematian mereka? Mungkinkah justru mereka meninggal karena virus SARS atau virus/ bakteri yang lain?
Untuk menjawab pertanyaan per-tanyaan tersebut, sampel darah, usap tenggorokan atau paru paru yang diperik-sa dari para korban di Indonesia seharus-nya tidak hanya di periksa di laboratorium oleh satu laboratorium saja di DEPKES atau WHO di Hongkong saja, tetapi juga diperiksa ke laboratorium lain di Indonesia atau negara yang lain sebagai pembanding (second opinion).
Dalam ilmu kedokteran biasa dilakukan bahwa untuk meneguhkan satu penyebab penyakit yang berbahaya bagi masyarakat perlu dilakukan pemeriksaan di 2 atau 3 laboratorium yang berbeda. Satu sampel yang berasal dari satu individu perlu dikirim untuk diperiksa dengan metode yang sama di 2 atau 3 laboratorium yang berbeda. Jika hasil pemeriksaan dari ke-3 laboratorium tersebut berbeda, maka pemeriksaan sampel tersebut perlu diulang dan jika hasilnya sama maka diagnosa penyebab penyakit tersebut dapat diteguhkan.
Dalam kasus kematian korban Flu Burung di Indonesia, masyarakat belum tahu apakah prosedur yang demikian telah dlakukan oleh pemerintah. Adalah hal yang wajar jika kematian para korban yang diduga karena virus Al H5N1 di Indonesia masih terus menerus menim-bulkan pertanyaan bagi keluarga korban, masyarakat, akademisi ataupun para peneliti atau bahkan oleh pemerintah Indonesia sendiri.
KEJANGGALAN OBAT FLU BURUNG
Kasus Flu Burung yang telah mem-bikin panik dan heboh masyarakat diser-tai dengan kebijakan pemerintah yang agak janggal di antaranya pembelian obat Tami Flu, Vaksin, bahan bahan kimia dan alat alat diagnostik kesehatan. Tampakanya Flu Burung telah menjadi isu global dan telah memberikan keuntungan yang sangat besar bagi negara atau kon-glomerat dunia yang memiliki industri berskala Internasional dalam bidang far-masi, kesehatan dan vaksin.
Industri pertama yang menikmati manisnya isu global Flu Burung adalah produsen Tamiflu. Obat Tamiflu mengan-dung zat aktif Oseltamivir suatu senyawa anti neurominidase. Senyawa ini mampu menghambat enzim neurominidase virus, sehingga akan mencegah masuknya materi genetik RNA virus ke sel manusia.
Melihat cara kerja senyawa ini, maka obat ini hanya efektif pada saat infeksi awal virus, ketika individu yang terserang belum menunjukkan gejala gejala klinis. Pada umumnya para penderita Flu, akan pergi ke dokter untuk berobat setelah gejala gejala Flu muncui berupa batuk, pilek, demam tinggi dan sakit kepala sebagai akibat adanya virus influenza sudah berkembang biak di dalam tubuh.
Di dalam tubuh virus influenza dapat melakukan replikasi atau memper-banyak diri dalam waktu delapan jam setelah menginfeksi sel. Pemberian obat Tamiflu menjadi tidak efektif ketika para penderita telah terinfeksi virus dalam waktu lebih dari 3 hari karena virus telah mengalami replikasi/berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh.
Meski keampuhan obat Tamiflu sebagai penangkis Flu Burung masih diragukan oleh para ahli, akan tetapi berbagai negara termasuk Indonesia telah mengeluarkan banyak uang untuk membeli obat yang belum jelas penggu-naannya tersebut.
KEJANGGALAN METODE RAPID TEST
Salah satu program pemerintah yang harus dikaji ulang adalah penggunaan metode rapid test untuk mendiagnosa kejadian infeksi Al di lapangan. Pemerintah telah mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli alat diag-notik rapid test yang digunakan oleh para dokter hewan di lapangan.
Metode ini seharusnya hanya diper-gunakan untuk screening awal terhadap dugaan adanya infeksi virus influenza. Metode ini bukan sebagai alat penentu peneguhan diagnosa virus Al H5N1 kare- ' na metode ini tidak dapat menen-tukan/membedakan subtipe virus influenza. Metode ini tidak dapat membedakan antara virus Al H5N1 dengan virus influenza H3N2. Metode tersebut akan memberikan nilai positip yang sama antara influenza pada manusia (H3N2) dan influenza pada ayam (H5N1). Jadi metode ini sebaiknya tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk memus-nahkan unggas di lapangan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa petugas di lapangan telah merugikan masyarakat dengan menumpas berbagai jenis burung berdasarkan hasil pemeriksaan dengan metode rapid test. Meski alat diagnostik tersebut sangat tidak akurat karena tidak sensitif untuk mendiagnosa virus Al H5N1, akan tetapi negara kita telah ter-lanjur membuang uang dalam jumlah yang besar untuk membeli bahan diagnostik yang di negara maju sudah tidak dipakai lagi.
Dr. drh. Edi Boedi Santosa MP
Lulusan Departemen Penyakit Unggas
Fakultas Kedokteran Hewan, Ludwig
Maximilians Universitaet Muenchen Jerman
dan sekarang menjadi dosen Fakultas
Kedokteran Hewan UGM
Sumber berita dari TABLOID AGROBIS BURUNG
Edisi No. 356 Minggu V Januari 2007
|