|
BERITA KEPADA KAWAN
MENKES FADILAH MENGUAK KONSFIRASI WHO-AS SOAL FLU BURUNG
Kuak Konsfirasi bikin "Senjata Biologi" dari Flu Burung,
Buku MENKES FADILAH bikin Gerah AS-WHO
Mentri Serikat Kesehatan Siti Fadilah Supardi (Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika (US). Fadilah berhasil menguak konsfirasi AS dan badan 59) bikin gerah Word kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian Influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasar dengan harga mahal di negara berkembang termasuk Indonesia.
Fadilah menuangkan dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah ! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti Fadilah juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the Word to Change. Konsfirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari peyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita, "ujar Fadilah kepada Pres di Network di Jakarta, Kamis (21/2/08).
Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah As dan WHO berkonsfirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian (H5N1) atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.
"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menindas kita lewat WTO, lewat Freeport, dll. Coba kalau tidak ada, kita sudah kaya," ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing=masing 1.000 eksemplar untuk edisi bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.
"Saat ini banyak yang meminta, jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbit kecil, tetapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbit besar," katanya.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirim 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintah George Bush," ujar MENKES pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang meminta menarik buku dari peredaran.
"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa indonesia sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halam itu.
Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di indonesia pada tahun 2005.
Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"MENKES Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna dari pada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus burung, yaitu trasparasi," tulis The Economist.
The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, megurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena edemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Ditengah upaya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkan untuk menyerahkan sample spesimen.
Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratium LITBANGKES melakukan penelitian. Hasil ternyata sama. Tetapi, mengapa WHO CC meminta sample dikirim ke Hongkong?.
Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di vietnam. Samplel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assesment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat Vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.
Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermaikan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO.
Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 orang grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementrian Energi AS. Di lab inilah dahulu dirancang bom Hirosima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, trasparan dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak mau lagi mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN,yang imperialistik dan membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya pada sidang Kesehatan Sedunia di Jewena Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirinya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.
|