|
VIDEO 3GP - Risalah SholatSilahkan donlod via HP, semoga membantu dakwah "Menuju Masjid" http://assalambook.as.funpic.org/VIDEO/Isi:Sholat_Berjamaah.3gp Luruskan_dan_Rapatkan_Shaf.3g p Sunnah_Menuju_Masjid.3gp Mengikuti_Imam.3gp Ancaman & Keutamaan Sholat.3gp Menggapai Sholat Khusyuk.3gp
Sifat Sholat Nabi part 1 http://www.youtube.com/watch?v=zYsKiCHDio8
Part 2 http://www.youtube.com/watch?v=oAwUcEwCSJY
Part 3 http://www.youtube.com/watch?v=LUbqL3A-Fq4
Part 4 http://www.youtube.com/watch?v=sSW66KVsDUM
Part 5 http://www.youtube.com/watch?v=aKpEIfIVhOs
Part 6 http://www.youtube.com/watch?v=-HDG-7fQ-Fk
Part 7 http://www.youtube.com/watch?v=SfJZ8ij5p8I
Part 8 http://www.youtube.com/watch?v=YefVjw40XuQ
Part 9 http://www.youtube.com/watch?v=_5bL6cNwyOI
Memakmurkan Masjid  Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif. Tulisan ini, hanya sebagai pengingat bagi kita, Umat Islam, untuk merekonstruksi paradigma terhadap masjid, yang menurut saya, sekarang pandangan sebagian Umat Islam dalam melihat masjid tidak sesuai dengan khittahnya. Saat ini sebagian Masjid ditelantarkan (dalam arti sebenarnya) oleh sebagian Umat Islam. Selama saya tinggal di Banjarbaru, kondisi sebagian masjid saat ini saya lihat sangat menyedihkan. Baik dari fisik bangunan, program kegiatannya maupun SDM pengelolanya. Bahkan yang membuat saya lebih miris, di antara masjid di Banjarbaru dan Pelaihari, jarang sekali anak muda yang shalat berjamaah. "Barang siapa yang membangun rumah Allah (masjid) di dunia, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga." (HR Muslim). Hadits itu jelas sekali maksudnya. Tapi karena kita memahaminya hanya secara harfiah, tanpa mengkaji lagi asbabul wurud (sebab hadits itu diturunkan) sehingga kita mungkin beranggapan: cukup menjadi panitia pembangunannya, Allah sudah membangunkan kita rumah di surga. Apalagi jika kita melakukan aktivitas shalat jamaah di masjid, memakmurkan masjid. Tentu hal yang luar biasa. Padahal paradigma seperti itu keliru. Bayangkanlah, jika pikiran kita seluruhnya sama seperti itu, maka siapa yang akan merawat rumah Allah tersebut. Siapa yang akan memakmurkan masjid tersebut? Padahal, memakmurkan masjid jauh lebih baik dan mempunyai nilai sangat strategis bagi Umat Islam. Di antaranya, ukhuwwah islamiyah Umat Islam dapat terjaga. Di masjid, tidak memandang status sosial. Tidak memandang pangkat, jabatan, kekuasaan, dll, seperti ketika kita berada di kantor, di pasar misalnya. Di sini, di rumah Allah yang mulia, sangat terasa persaudaraan itu. Jika kita ada pada zaman Rasulullah, mungkin rumah kita dibakar oleh Rasulullah karena kita tidak menjalankan shalat jamaah di masjid. Renungkanlah percakapan antara umi maktum, sahabat Rasulullah yang buta. "Ya Rasulullah adakah rukshah (keringanan) bagi saya untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid." Rasul menjawab: "Apakah engkau masih mendengar azan?" Umi Maktum menjawab: "Masih." "Maka wajib bagimu untuk mendatangi masjid itu," jawab Nabi. Hadits meriwayatkan, hampir-hampir akan dibakar rumah orang yang tidak mau ke masjid untuk shalat jamaah, jika tidak terjadi fitnah. Pusat Revolusi PeradabanMasjid di zaman Rasulullah mempunyai banyak fungsi, selain tempat ibadah. Itu sebabnya, Rasulullah membangun masjid terlebih dahulu. Untuk mengumpulkan pengikut Rasulullah, tempat yang tepat adalah masjid karena bebas nilai. Hanya nilai kebaikan dalam rangka mengesakan Allah, yang ada di masjid. Madinah dijadikan Rasulullah sebagai prototipe masyarakat berperadaban Islam. Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif. Intinya dari masjid awal cahaya Islam menyebar ke seluruh cakrawala dunia. Bagaimana kondisi masjid sekarang?  Selain seperti yang saya jelaskan di atas, ada hal yang umumnya terjadi di sebagian masjid kita. Masjid fungsinya dibatasi, hanya sebagai tempat ibadah. Salah? Tidak. kemudian ada lagi permasalahan yang sering saya jumpai di masjid, yaitu ketika ada yang ingin melakukan kegiatan atas nama parpol tertentu, izinnya dipersulit. Bahkan pengurus juga tidak jarang mengatakan: "Masjid bukan tempat orang untuk bicara politik." Padahal di zaman Rasulullah, justru politik dibicarakan di masjid. Ada juga persoalan yang sering terjadi jika ada ormas mau mengadakan kegiatan, tetapi mazhabnya berbeda dengan pengurus masjid, maka ormas itu tidak boleh memakai masjidnya. Tips memakmurkan masjid: Dari sisi SDM yaitu: -Adakan pelatihan manajemen masjid dengan mengundang ahlinya sehingga diharapkan pengelolanya bisa maksimal mengurus masjid; -Adakan pembinaan terhadap pemuda di sekitar masjid. Diharapkan mereka sebagai suplai SDM nantinya, jika orang tua sudah tidak ada. Dari sisi program kerja: Buat program kerja yang inovatif. Misalnya, selama satu tahun kepengurusan si Fulan yang ada di masjid hanya acara Shalat Tasbih, yasinan, maulid, kajian kitab kuning. Maka, tambahlah dengan bedah buku, mabit, ESQ, Talk Show, dll. Back to Masjid  Kiranya tidak berlebihan, jika hal itu membawa dampak positif yang signifikan bagi kemakmuran masjid maupun masyarakat sekitar. Apalagi baru saja kita melewati Ramadhan. Kenapa tidak kita teruskan ibadah berjamaahnya? Apalagi sekarang Muharam, bulan ini dijadikan sebagai momentum hijrah bagi muslim. Mari kita shalat berjamaah di masjid, jika tidak mau, berarti ada yang salah dalam diri kita.  Kemudian Shalat Subuh bersama forum RT/RW, sehingga terlihat kedekatan pejabat dengan rakyatnya. Dampaknya luar biasa. Bukan hanya masjid yang hidup, tempat kita tinggal akan mendapat berkah dari langit. Apalagi jika gaya memimpin bupati/walikota seperti Umar bin Abdul Aziz. Subhanallah. Kini saatnya kita kembali ke masjid. khususnya melakukan Shalat Subuh jamaah. Seorang Yahudi berkata: "Bangsa kami, Yahudi, baru akan takut jika Umat Islam telah melaksanakan Shalat Subuh seperti melakukan Shalat Jumat."Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Mari mulai sekarang juga, kita makmurkan masjid di kompleks perumahan kita, di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan (jika memungkinkan). Hilangkan perbedaan yang tidak syar’i, kecurigaan terhadap sesama umat. Sumber:http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/15274/180/ Sukseskan Gerakan Back To Masjid ... http://www.google.co.id/search?q=%22Back+to+Masjid%22&btnG=Telusuri&hl=idhttp://www.google.co.id/search?q=%22Back+to+Masjid%22&hl=id&start=10&sa=NYahoogroup : remajamasjidhttp://groups.yahoo.com/group/remajamasjid/Back To Masjid !http://azzam.wordpress.com/2007/07/02/back-to-masjid/Membangun Peradaban Umat Melalui Pemakmuran Masjidhttp://ntacaholic.blogspot.com/2008/02/membangun-peradaban-umat-melalui.html Re: Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umathttp://myquran.org/forum/index.php/topic,11068.0.html * Sukseskan Gerakan Back To Masjid ... * http://sibin2007.multiply.com/tag/masjid
Fungsi dan Peran Masjid  Masjid berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Pada waktu hijrah dari Mekah ke Madinah ditemani shahabat beliau, Abu Bakar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati daerah Quba di sana beliau mendirikan Masjid pertama sejak masa kenabiannya, yaitu Masjid Quba (QS 9:108, At Taubah). Setelah di Madinah Rasulullah juga mendirikan Masjid, tempat umat Islam melaksanakan shalat berjama’ah dan melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Pada perkembangannya disebut dengan Masjid Nabawi. Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok, sunnah Nabi dalam pengertian muhaditsin, bukan fuqaha, yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslimin. Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaff.” (HR: Al Jamaah selain Bukhory dan Turmudzy). Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad.” (HR: Bukhory dan Muslim). Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan shalat berjama’ah, yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar. Sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid. Jadi keberhasilan dan kekurang-berhasilan kita dalam memakmurkan Masjid dapat diukur dengan seberapa jauh antusias umat dalam menegakkan shalat berjama’ah. Meskipun fungsi utamanya sebagai tempat menegakkan shalat, namun Masjid bukanlah hanya tempat untuk melaksanakan shalat saja. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain dipergunakan untuk shalat, berdzikir dan beri'tikaf, Masjid bisa dipergunakan untuk kepentingan sosial. Misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), merawat orang sakit, menyelesaikan hukum li'an dan lain sebagainya. Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim di situ ada Masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Disamping menjadi tempat beribadah, Masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan lain sebagainya. Banyak Masjid didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus maupun yang lainnya. Masjid didirikan untuk memenuhi hajat umat, khususnya kebutuhan spiritual, guna mendekatkan diri kepada Pencipta-nya. Tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat. Utsman Ibn ‘Affan r.a. berkata: “Rasul s.a.w. bersabda: Barangsiapa mendirikan karena Allah suatu Masjid, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan itu di Syurga.” (HR: Bukhori & Muslim). Masjid memiliki fungsi dan peran yang dominan dalam kehidupan umat Islam, beberapa di antaranya adalah:1. Sebagai tempat beribadah.Sesuai dengan namanya Masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridla Allah, maka fungsi Masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran Islam. 2. Sebagai tempat menuntut ilmu.Masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di Masjid. 3. Sebagai tempat pembinaan jama’ah.Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, Masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah imaniyah dan da’wah islamiyahnya. Sehingga Masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh. 4. Sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam.Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu Masjid, berperan sebagai sentra aktivitas da’wah dan kebudayaan. 5. Sebagai pusat kaderisasi umat.Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, Masjid memerlukan aktivis yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di Masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya. 6. Sebagai basis Kebangkitan Umat Islam.Abad ke-lima belas Hijriyah ini telah dicanangkan umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Umat Islam yang sekian lama tertidur dan tertinggal dalam percaturan peradaban dunia berusaha untuk bangkit dengan berlandaskan nilai-nilai agamanya. Islam dikaji dan ditelaah dari berbagai aspek, baik ideologi, hukum, ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Setelah itu dicoba untuk diaplikasikan dan dikembangkan dalam kehidupan riil umat. Menafasi kehidupan dunia ini dengan nilai-nilai Islam. Proses islamisasi dalam segala aspek kehidupan secara arif bijaksana digulirkan. Umat Islam berusaha untuk bangkit. Kebangkitan ini memerlukan peran Masjid sebagai basis perjuangan. Kebangkitan berawal dari Masjid menuju masyarakat secara luas. Karena itu upaya aktualisasi fungsi dan peran Masjid pada abad lima belas Hijriyah adalah sangat mendesak (urgent) dilakukan umat Islam. Back to basic, Back to Masjid. AKTUALISASI FUNGSI DAN PERAN MASJIDSecara umum pengelolaan Masjid kita masih memprihatinkan. Apa kiranya solusi yang bisa dicoba untuk ditawarkan dalam meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid di era modern. Hal ini selayaknya perlu kita pikirkan bersama agar Masjid dapat menjadi sentra aktivitas kehidupan umat kembali sebagaimana telah ditauladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya. Kita perlu melakukan pemberdayaan Masjid dahulu sebelum mengoptimalkan fungsi dan perannya. Dalam pemberdayaan ini kita bisa menggunakan metode Continuous Consolidation and Improvement for Mosque (CCIM) atau Penguatan dan Perbaikan Berkelanjutan untuk Masjid .CCIM adalah metode pemberdayaan Masjid dengan menata kembali organisasi Ta’mir Masjid melalui pemanfaatan segenap potensi yang dimiliki diikuti dengan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Dalam metode ini kita dapat memanfaatkan metode-metode yang sudah dikenal dalam dunia management maupun mutu, seperti misalnya: Siklus PDCA, QC Tools, SAMIE, MMT, ISO 9000, Lima-R dan lain sebagainya. Penguatan atau dalam istilah umum organisasi disebut konsolidasi ( concolidation), adalah merupakan upaya menata sumber daya yang ada secara sistimatis dan terarah. Yang perlu dilakukan adalah meliputi: a. Konsolidasi pemahaman Islam. b. Konsolidasi lembaga organisasi. c. Konsolidasi program. d. Konsolidasi jama’ah. Perbaikan (improvement) diperlukan untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada jama’ah. Beberapa cara yang cukup efektif dalam upaya perbaikan dapat diseleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan, agar upaya perbaikan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan (continuous improvement). Sambil melakukan konsolidasi dan perbaikan, aktivitas memakmurkan Masjid dan jama’ahnya dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan peran yang telah disebutkan di depan. Aktivitas disusun dengan melakukan perencanaan Program Kerja secara periodik dan diterjemahkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) setiap tahunnya. Rencana yang telah ditetapkan selanjutnya ditindak lanjuti dengan melakukan koordinasi segenap sumber daya yang dimiliki dan dilaksanakan secara profesional. Aktivitas yang diselenggarakan dilaporkan, dievaluasi, distandardisasi dan dikaji untuk ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya. Pada masa sekarang Masjid semakin perlu untuk difungsikan, diperluas jangkauan aktivitas dan pelayanannya serta ditangani dengan organisasi dan management yang baik. Tegasnya, perlu tindakan meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid dengan memberi warna dan nafas modern. Lokakarya idarah Masjid yang diselenggarakan di Jakarta oleh KODI DKI pada tanggal 9-10 November 1974 telah merumuskan pengertian istilah Masjid sebagai berikut: "Masjid ialah tempat untuk beribadah kepada Allah semata dan sebagai pusat kebudayaan Islam". Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa Masjid harus bebas dari aktivitas syirik dan harus dibersihkan dari semua kegiatan-kegiatan yang cenderung kepada kemusyrikan. Disamping itu kegiatan-kegiatan sosial yang dijiwai dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam dapat diselenggarakan di dalamnya. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS 72:18, Al Jin). http://www12.asphost4free.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=72&No=18#18Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah). http://www12.asphost4free.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18Pengertian Masjid sebagi tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam telah memberi warna tersendiri bagi umat Islam modern. Tidaklah mengherankan bila suatu saat, insya Allah, kita jumpai Masjid yang telah dikelola dengan baik, terawat kebersihan, kesehatan dan keindahannya. Terorganisir dengan management yang baik serta memiliki tempat-tempat pelayanan sosial seperti, poliklinik, Taman Pendidikan Al Quraan, sekolah, madrasah diniyah, majelis ta'lim dan lain sebagainya. Sumber: Fungsi dan Peran Masjidhttp://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=149   
 KAMPANYE GERAKAN MEMAKMURKAN MASJID  Gerakan Memakmurkan Masjid (GMM) harus dikampanyekan agar memperoleh sambutan umat yang luas. Pemerintah, khususnya Departemen Agama, harus mengambil posisi terdepan dalam kampanye ini. Para tokoh umat Islam, baik Politisi, Ulama, Ustadz, Mubaligh, pimpinan masyarakat, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), Ormas Islam, perguruan tinggi, sekolaah, profesional, mahasiswa, pelajar dan terutama aktivis Masjid juga harus memberi dukungan. Kampanye GMM dapat diwujudkan dalam bentuk: a. Pembangunan Masjid di kantor-kantor pemerintah, perusahaan, bandara, stasiun, terminal, pabrik, rumah sakit, plaza / mall, pasar, kampus perguruan tinggi, sekolah dan pemukiman penduduk. b. Menyelenggarakan aktivitas, baik umum maupun keagamaan, dengan menggunakan Masjid dan lingkungannya sebagai tempat penyelenggaraan. c. Publikasi aktivitas kemasjidan dan anjuran untuk memakmurkan Masjid melalui media massa: koran, majalah, radio televisi dan internet. d. Tauladan para tokoh masyarakat dan public figure dalam memakmurkan Masjid, khususnya dalam menegakkan shalat berjama’ah di Masjid. e. Pemberian penghargaan berupa Mosque Award kepada Masjid yang berprestasi dengan kriteria tertentu. Sumber: http://forum.immasjid.com/index.php?PHPSESSID=e0ad4db1d1fbe3622ff73c7261b1622b&topic=7.0
Hidup Sehat Dengan Shalat SubuhCategory: Books Genre: Religion & Spirituality Author: Adnan ath-Tharsyah Penelitian mutakhir membuktikan, shalat Subuh bisa menjadi terapi berbagai penyakit. Selain menghilangkan kemalasan dan menyegarkan badan, shalat yang dianggap berat oleh orang munafik ini juga dapat melancarkan peredaran darah pasca tidur. Tak hanya itu. Langkah kaki ke masjid ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengganti sel-sel rusak, memperbaiki kinerja jantung dan meningkatkan kemampuan otak. Sungguh, sebuah manfaat luar biasa yang selama ini banyak dilupakan. Limpahan fasilitas hidup—seperti televisi—justru membuat kita beralasan untuk tidak shalat Subuh berjamaah tepat waktu. Pola hidup yang memforsir tubuh untuk bekerja hingga lelah di malam hari juga menjadi sorotan Syaikh Adnan Tharsyah, Sang Penulis, sebagai salah satu penyebab malas bangun dini hari. Lalu, bagaimana solusinya? Dengan gaya tutur yang mengalir, Penulis memaparkan tips untuk mempermudah kita meraih manfaat besar pelaksanaan shalat Subuh. Lebih daripada itu, buku ini juga mengingatkan kembali keagungan shalat Subuh di mata syariat. Sebuah pembahasan penting, agar kita tak terjebak dalam niat yang keliru: shalat Subuh hanya untuk menjaga kesehatan. http://www.aqwam.com/katalog/117.htmlhttp://www.rumahbukuislam.com/index.php?id=10&kodebuku=AQW13&jml=2sumber: http://komunitassubuh.multiply.com Keutamaan SubuhOleh : Muhammad Jihad Akbar Shalat Subuh merupakan satu di antara shalat wajib lima waktu yang mempunyai kekhususan dari shalat lainnya dan mempunyai keutamaan yang luar biasa. Pada saat inilah pergantian malam dan siang dimulai. Pada saat ini pula malaikat malam dan siang berganti tugas (HR Al-Bukhari). Karenanya, beruntunglah mereka yang dapat melaksanakan shalat Subuh pada awal waktu sebab disaksikan oleh malaikat, baik malaikat yang bertugas pada malam hari maupun siang. Allah SWT berfirman: ''Dan dirikanlah shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).'' (QS Al-Isra' [17]: 7  . Selain itu, shalat Subuh juga bisa menjadi penerang pada hari ketika semua orang berada dalam kekalutan (kiamat). Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, ''Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid (untuk mengerjakan shalat Subuh) dengan cahaya yang terang benderang (pertolongan) pada hari kiamat.'' (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah). Tak hanya itu, Allah pun telah menyiapkan pahala yang luar biasa bagi mereka yang membiasakan shalat Subuh tepat pada waktunya, yaitu mendapatkan pahala sebanding dengan melakukan shalat semalam suntuk. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, ''Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat semalam suntuk.'' (HR Bukhari). Di antara hikmah dan alasannya adalah karena shalat Subuh merupakan shalat wajib yang paling ''sulit'' dikerjakan pada awal waktu. Banyak di antara kita lebih memilih untuk tidur di atas kasur empuk dan selimut yang hangat. Padahal, seruan Allah (adzan) pada waktu Subuh telah memberitahukan kita bahwa shalat itu lebih baik daripada tidur. Secara ilmiah, benar adanya bahwa bangun pagi dan melakukan shalat lebih baik daripada terus tidur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Louis J Ignarro dan Ferid Murad, pembuluh darah manusia akan mengembang pada tengah malam terakhir sampai menjelang siang. Kemudian secara berangsur-angsur sekumpulan sel darah akan menggumpal pada dinding pembuluh sehingga terjadi penyempitan. Inilah yang mengakibatkan tekanan darah tinggi. Menurut peraih Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran tahun 1998 ini, ada cara alamiah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, yaitu menggerakkan tubuh sejak pagi buta. Karena, penelitian mereka menunjukkan bahwa dengan menggerak-gerakkan tubuh, gumpalan sel tadi akan melebur bersama aliran darah yang terpompa dengan kencang pada saat bergerak. Maka, beruntunglah mereka yang terbiasa menggerakkan tubuh pada waktu Subuh dengan bangun tidur lalu berwudhu kemudian berjalan menuju masjid guna shalat Subuh berjamaah. sumber: http://komunitassubuh.multiply.com/links/item/8/Keutamaan_Subuh Gerakan Subuh Massal[Dipetik dari Buku "Menguak Misteri Shalat Subuh" hlm. 123] http://komunitassubuh.multiply.com/reviews/item/3Istilah ini menyeruak bersama terbitnya buku "Misteri Shalat Subuh" edisi Bahasa Indonesia. Gerakan Subuh Massal, gerakan apa pula ini? Penulis paham, bahwa ini hanya sebentuk ajakan, sebentuk dakwah untuk mengajak kaum muslimin melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Itu sungguh niat yang tulus. Tapi, semata-mata niat baik, di sisi Allah tidaklah cukup. Abdullah bin Mas'ud ra menyatakan, "Berapa banyak orang yang berniat baik tetapi tidak mendapatkan kebaikan tersebut."[1] Mengajak orang atau masyarakat Islam untuk rajin melaksanakan shalat Subuh, sangatlah bagus, bahkan itu tuntutan bagi setiap juru dakwah. Tapi untuk kemudian memberi istilah khusus bagi dakwah tersebut dengan gerakan subuh massal, masih sangat diragukan keabsahannya, kalau tidak bisa dibilang tidak benar dan cukup berbahaya. Karena kalau istulah itu baik, tentu sudah digunakan oleh para ulama. Dan kalau itu digunakan, kenapa tidak ada dipakai juga istilah gerakan Isya' massal, gerakan haji massal, gerakan puasa Ramadhan massal dan sejenisnya? Selain itu istilah gerakan subuh massal dikhawatirkan akan memberikan kekhususan tersendiri pada shalat Subuh. Betapapun keistimewaan dari shalat Subuh, pengkhususan seperti itu tidaklah pernah didengung-dengungkan oleh para ulama Ahlussunnah. Ini seolah-olah merupakan dakwah khusus, untuk memassalkan shalat Subuh. Memang, penulis yakin, pencetus istilah ini tidaklah berkeinginan untuk membuat kerancuan dalam istilah dakwah. Tapi sebagai rambu-rambu, penulis selalu ingatkan dengan sabda Nabi saw, "Barangsiapa yang membuat-buat suatu amalan baru dalam agama kita ini yang bukan darinya, maka amalannya tersebut tertolak."[2] -- [1] Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya nomor 210, dengan tahqia Abdullah Hasyim Yamani. Sanadnya dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah dengan nomor 2005. Lihat Majma'uz Zawa-id I:181 [2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2697) dan Muslim (171  dari hadits 'Aisyah. sumber: http://komunitassubuh.multiply.com/journal/item/15/Gerakan_Subuh_Massal rahasia salat subuholeh : Dr. dr. Barita Sitompul SpJP Setiap pagi kalau kita tinggal didekat mesjid maka akan terbangun mendengar adzan subuh, yang menyuruh kita untuk melaksanakan shalat subuh. Bagi mereka yang beriman segera saja melemparkan selimut dan segera wudhu dan shalat baik di rumah masing-masing atau ke mushalla atau masjid terdekat dengan berjalan kaki. Mungkin menjadi pertanyaan mengapa Tuhan memerintahkan kita bangun pagi dan shalat subuh? Berbagai jawaban dari semua disiplin ilmu tentunya akan banyak dijumpai dan membedah serta memberikan jawaban akan manfaat shalat subuh itu. Dibawah akan diulas sedikit mengani manfaat shalat subuh, instruksi Allah sejak 1400 tahun yang lalu. Dalam adzan subuh juga akan terdengar kalimat lain dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang dikumandangkan muazin untuk waktu-waktu shalat selanjutnya. Kalimat yang terdengar berbeda dan tidak ada pada azan di lain waktu adalah “ash shalatu khairun minan naum”. Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur. Pernahkah kita mencoba sedikit saja menghayati kalimat ”ash shalatu khairun minan naum”? Mengapa kalimat itu justru dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain. Sangat mudah bagi kita semua mengatakan bahwa shalat subuh memang baik karena menuruti perintah Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Apapun perintahnya pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi disisi mana manfaat i tu? Apa supaya waktu banyak untuk mencari rezeki, tidak ketinggalan kereta atau bus karena macet? Pada waktu dulukan belum ada desak-desakan seperti sekarang semua masih lancar, untuk itu tinjauan dari sisi kesehatan kardiovaskular masih menarik untuk dicermati. Untuk tidak berpanjang kata, maka dikemukakan data bahwa shalat subuh bermanfaat karena dapat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular. Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih maka dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN). Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya. Pada tegangan saraf simpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat. Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sma lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur. Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk anda dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian/Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Tuhan kepada manusia. Kenapa begitu dan apa keuntungannya Tuhan yang berkuasa menerangkannya saat ini. Namun apa kaitannya keterangan di atas dengan kalimat ”ash shalatu khairun minan naum”? Shalat subuh lebih baik dari tidur? Secara tidak langsung hal ini dapat dirunut melalui penelitian Furgot dan Zawadsky yang pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diseledikinya (dikerok). Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu: Asetilkolin. Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin. Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran. “Jadi itu toh yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, sesuatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu”. Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan/melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitian maka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida. Ketiga penelitian itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998. Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipin dan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak, dengan olahraga. Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi/sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita. Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, tatkala tamu yang tidak kita inginkan selalu saja sowan pada setiap pagi gelap, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular. Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular. Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan exercise tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan inginnya rangkulan terus. Demikianlah kekuasaan Allah, ciptaannya selalu dalam berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, dan NO-Kontra anti NO. Allah, sudah sejak awal Islam datang menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasihNya pada hambaNya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar. Mudah-mudahan mulai saat ini kita tidak lagi memandang sholat sebagai perintahNya akan tetapi memandangnya sebagai kebutuan kita. Sehingga tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat subuh didahului dengan shalat sunnah dan kalau dapat jalan ke mesjid. Dan juga anda jangan jadi terlalu bersemangat, karena ingin sehat sehingga shalat subuhnya jadi 3 atau 4 rakaat. Itu tidak ada dalam petunjuk shalat. Selamat shalat subuh dengan penuh rasa syukur pada Allah akan karunia ini. Amien. sumber: http://komunitassubuh.multiply.com/journal/item/11/rahasia_salat_subuh KEAJAIBAN SHALAT SUBUHCategory: Books Genre: Religion & Spirituality Author: Imad Ali Abdus Sami Husain -Menguak Misteri Kemuliaan dalam Sholat Subuh- Penulis adalah Doktor bidang Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo Penerbit: W.I.P (Wacana Ilmiah Press) SINOPSIS: Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika shalat Subuh tengah dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masjid itu mengadu kepada Robbnya Yang Agung. Masjid-masjid itu semakin merintih tatkala di waktu jamaah sholat Subuh ditegakkan, keadaan dirinya laksana "panti jompo" saja, karena hanya dihadiri oleh orang-orang yang telah lanjut usia, itupun hanya beberapa gelintir orang saja. Dimanakah kaum muda kita? Dimanakah mereka yang begitu bersmangat menghadiri jamaah shalat Jum'at, namun merasa berat dan malas tatkala menghadiri jamaah shalat Subuh di waktu pagi buta itu? Tidak tahukah mereka bahwa Rasul saw. telah bersabda, "Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya' dan Subuh." (HR. Ahmad). Buku ini disusun dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis tentang diremehkannya pelaksanaan shalat Subuh oleh umat Islam, padahal di dalamnya terkandung kemuliaan yang agung. Buku ini berusaha mengungkapkan keajaiban dan misteri kemuliaan yang ada di balik pelaksanaan shalat Subuh. Dalam buku ini juga dimuat beberapa kiat praktis untuk menggugah diri agar merasa enteng menghadiri jamaah shalat Subuh. Sebuah buku praktis dan penting untuk dimiliki oleh kaum muslimin di manapun saja berada. sumber: http://komunitassubuh.multiply.com/reviews/item/2 http://komunitassubuh.multiply.com
http://gerakansubuhmassal.multiply.com
Aktifkan GSM-mu! 3 jaringan GSM-mu!. Heheh pake 3 memang ngirit. Bayangkan aja, dengan voucher sms cukup 10 rb gratis sms sesama 3,nelpon 1 rp/menit dari jam 1 pagi ampe jam 1 siang, sms ke lain operator Rp 110. Murah banget oey.. Sampai-sampai anak DS Sleman yang se amanah dengan saya pada punya nomor wajib n nomor sunnah, nomor sunnahnya ya nomor 3. Ada keunggulan pasti ada kelemahan, memang itulah sifak fisis dunia. Klo udah pulkam, 3 ga ada sinyal, klo mau SMS atau nerima SMS harus mendeket tower listrik duluw, di tengah sawah. [waduw]. Huayoo para provider dan developer 3 diperbagus dunk jaringannya, kalahkan dengan teknologi kengiritan jaringan CDMA. Semoga aja yang baca ada salah satunya provider 3. [Hehehe]. Udah aghh ngiklannya… GSM disini sebenarnya bukan rivalnya si CDMA. Tapi GSM, Gerakan Subuh Massal. Aktifkan GSM-mu!. Berdasarkan survey saya sholat ini yang paling banyak ditinggalkan anak-anak SMA. Kesiangan lah, terlalu dingin, keburu sekolah lah dsb. Lawong namanya juga punya mutarobi anak SMA ya harus benar-benar sabar, memang beda karakteristiknya dengan anak-anak kampus. Beda jauh!.Kelompok halaqoh yang beda, problem pun juga beda begitu pula terapi penyembuhannya. Ehm,.. harus belajar ulang mensejajarkan level pemikiran, menaikkan pemahaman yang memang harus dinaikkan. Berusaha ‘berbicaralah sesuai denagn kaumnya’ ya itu dia.. . Dimana-mana mah praktek mah lebih susye dari teori, so keinginan kuat untuk melakukan suatu hal yang kita niati. Semoga yang merequest tulisan ini, tidak berkecil hati karena saya baru sempat nulis tentang hal ini. Akhir-akhir ini memang agak padat kesibukannya. [ Afwan yaa..]. The next, menuju keshalihan pribadi dan keshalihan umat. Gimana mau sholeh secara jamai lawong kesholehan diri saja susye melakukannya. Logika gampangannya seperti itu. Sedikit mengintip kebiasaan Rosul zaman dahulu, yang tak henti-hentinya segala peradaban di zaman itu merupakan peradaban yang ‘unic n wonderfull’ dan merupakan kiblat ibadah untuk segala zaman. Salah satu peradaban lingkungan yang membudaya adalah, masjid menjadi center of activity, center learning, n center of solution. Oleh karena itu hati para syuhada dan sahabat begitu dekat sekali dengan yang namanya Masjid. Untuk mengecheck seberapa kuat barisan perang, ya di check pada saat aktivitas sholat berjamaah di masjid. Untuk mengecheck iltizam ( komitmen-red) seorang sahabat ya dilihat dari kedatangan sahabat tersebut dalam forum sholat berjamaah. Terlambatkah? Tepat waktunya kah? Kondisi sholatnya? Dsb. Sehingga dari masjid tercipta basis sosial Islami. Saya teringat pas ramadhan lalu, i’tikaf di masjid Jogokaryan. Hampir sama kondisinya, masyarakat di sekitar masjid benar-benar terkondisikan menjadi masyarakat yang Islami. Wagh klo pas jualan pun waktu sholat benar-benar dialokasikan untuk sholat. Wagh angannya saya mulai terbayang ke masa gemilang itu, indah kali ya berada di lingkungan seperti itu. Mulai dari sebuah masjid sebuah peradaban baru mulai dibentuk dan dibina. Mulai dari sebuah masjid tatanan pemerintahan mulai dirancang. Sungguh masjid punya peran besar dalam pembentukan karakter seseorang, jujur saja terbilang agak ‘kacaw’ dan lumayan ‘tersandung’ bahkan mungkin hamper ‘jatuh’ pasca KKN dan amanah saya kelar untuk ngurusi dakwah kampus yang juga center of activitynya di MMU ( Mushola Mipa Utara). Sertasa ada yang berbeda. Mulai menjerambah dakwah sekolah, center of activitynya juga di Masjid, ya agak lumayan terkondisikan. Kemudian ganti amanah untuk daerah local yang berbeda, center of activity-nya bukan lagidi Masjid, walaupun aktivitasnya masih aktivitas yang berbau dakwah, tapi ternyata kerasa juga bedanya. Memang rumahNya lebih terasa adem dan tenang disbanding bangunan lain, sesimple apapun rumahNya itu. Sempat protes juga dalam hati, ruangan sesempit itu koq digunakan syuro untuk ikhwan akhwat segh! Ga nyaman ajah!. Sekali lagi, jamaah ini adalah jamaah manusia yang punya banyak kekurangan disana sini, saya bisa terima itu, tapi akan lebih bagus lagi klo qt benahi bersama bukan?. Terlepas saya sebagai seorang manusia juga, yang mungkin Alloh masih menutupi aib saya, dan semoga yang tahu hanya saya dan Dia SWT. Dan Astaghfirulloh… Izinkan aku memperbaikinya ya Robb secepatnya sebisanya… Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz said that “ Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk takut kepada Allah dalam meninggalkan shalat berjamaah, serta berhati-hati terhadap musibah yang banyak menimpa manusia (musibah tidak shalat berjamaah). ‘Berlindunglah kepada Allah dari akibat shalat di rumah dan ketinggalan shalat di masjid. Keadaan mereka nyaris menyerupai keadaan kaum munafik. Ia melaksanakan shalat fardhu di rumah, padahal Allah telah mengaruniakan kesehatan kepadanya, barangkali juga ia mengakhirkan shalat Shubuh hingga terbitnya matahari, bahkan sampai waktu ia akan berangkat kerja baru melaksanakan shalat Shubuh, atau bahkan ia tinggalkan shalat sama sekali. Ini adalah musibah yang besar dan kemungkaran yang membahayakan, karena shalat adalah tiangnya Islam. Barangsiapa menjaga berarti menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya tentulah ia akan lebih menyia-nyiakan hal yang lain, barangsiapa meninggalkannya maka termasuk kafir. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka” (QS At-Taubah: 17). Mari aktifkan GSM qt. Gerakan Subuh Massal, yang ikhwan berduyun-duyun ke Masjid.  Dan yang akhwat bersama-sama juga menggiatkan GSM di lngkungannya. Hehhehe termasuk juga mensupport diri untuk kembali menggiatkan GSM di Karima yang sempat mati akhir-akhir ini karena kesibukan diri, wagh kadang males banget ngebangunin anak-anak, sok cuek, sok males. Alhasil ga kompak degh subuhannya. Gimana mau sholeh secara jamai ngelola subuhan di kost aja ga bisa, koreksi besar buwatmu Mel… Yupz.. mari perbaiki diri kondisi dan lingkungan sekitar kita, aktifkan GSM-m, mulai dari lingkungan yang terdekat denganmu. Menuju kesholehan umat berawal dari kesholehan pribadi. Mustahil dakwah social bisa berjalan tanpa qt juga berjalan didalamnya. sumber: http://melati-asih.web.ugm.ac.id/2008/02/26/aktifkan-gsm-mu/
MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"[HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah]. Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".[HR. Muslim] Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Artinya: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"[HR. Al Bukhari dan Muslim], dan pada riwayat Al Bukhari, Anas r.a. berkata: "Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya" sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas: "Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu dia akan lari darimu."Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat".Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin. Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka: Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf. Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab bahwasanya Nabi bersabda: "Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".[HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ] Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Disamping itu bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya. Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi: Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf".[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah]. Dan sabda Nabi yang shahih: "Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".[HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah] Dan sabda Nabi yang lain: Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya".[HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban]. Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki. Diantara haditsnya adalah : Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adlaah yang paling depan.(H.R. Muslim). Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayab.(Bukhari dan Muslim.) Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imamRasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama’ah, ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab shahih Al Jami’ II/1089).
Sholat berjamaah di masjid adalah salah satu ciri utama masyarakat Islam. Dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT memuji kaum muslimin yang komitmen dengan sholat berjamaah dan mencela orang yang menganggap remeh persoalan ini. Di antara pujian Allah adalah : 1. Sholat berjamaah dijadikan salah satu indikator kesuksesan orang-orang mukmin. Allah berfirman: " Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1)... Dan orang-orang yang memelihara sholatnya (9)." (QS. Al Mu'minun : 1 dan 9) http://www12.asphost4free.com/alquranonline/Alquran_Tafsir?SuratKe=23&No=1#12. Sholat berjamaah adalah salah satu indikator masyarakat yang bersyukur atas kemenangan yang di anugerahkan Allah kepada mereka. Allah berfirman: "(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al Hajj : 41) http://www12.asphost4free.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=22&No=41#41Orang yang melalaikan dan menganggap remeh persoalan ini digambarkan oleh Allah sebagai salah satu sifat orang munafiq. Allah berfirman : "Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (QS. At Taubah : 54) http://www12.asphost4free.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=54#54Sholat jamaah adalah sunnah agung dari Rasulullah yang tidak boleh diabaikan. Jika diabaikan bisa berdampak kepada kesesatan. Ibnu Mas'ud menggambarkan urgensi sholat jamaah sebagai berikut : من سره أن يلقى الله غدا مسلما فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن فإن الله شرع لنبيكم صلى الله عليه وسلم سنن الهدى وإنهن من سنن الهدى ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم وما من رجل يتطهر فيحسن الطهور ثم يعمد إلى مسجد من هذه المساجد إلا كتب الله له بكل خطوة يخطوها حسنة ويرفعه بها درجة ويحط عنه بها سيئة ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق ولقد كان الرجل يؤتى به يهادى بين الرجلين حتى يقام في الصف ( صحيح مسلم 1/ 453) "Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah di hari esok dalam keadaan muslim hendaklah dia menjaga sholat-sholat mereka secara berjamaah di mana mereka diseru. Sesungguhnya Allah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah yang agung, dan sholat berjamaah adalah diantara sunnah yang agung tersebut. Andaikan kalian sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang-orang yang 'suka tertinggal' itu sholat di rumahnya, maka kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka kalian sudah tersesat. Tidak ada seorangpun yang berwudhu' dengan sempurna, lalu berangkat ke masjid, kecuali Allah menulis untuk setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menggugurkan satu kesalahan. Aku menyaksikan komunitas kami, tidak ada yang meninggalkan sholat jamaah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya. Bahkan ada orang yang datang ke masjid dengan cara dibopong oleh dua orang sampai dia sampai ke shaf (sebagai bukti kesungguhan mereka melaksanakan sunnah Rasulullah)" Dalam hadits lain disebutkan bahwa shaf yang tidak lurus saat sholat berjamaah adalah indikator tidak beresnya barisan kaum muslimin. Rasulullah bersabda saat meluruskan shaf : عن أبي مسعود قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح مناكبنا في الصلاة ويقول استووا ولا تختلفوا فتختلف قلوبكم ليلني منكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم قال أبو مسعود فأنتم اليوم أشد اختلافا ( صحيح مسلم ، جزء 1 - صفحة 323 ) ”Dari Ibnu Mas'ud RA berkata : Rasulullah SAW menarik pundak-pundak kami pada saat mulai sholat. Beliau bersabda : luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih sehingga hati-hati kalian menjadi berselisih. Hendaklah berdiri di belakangku orang-orang yang berilmu, kemudian orang setelahnya, kemudian orang setelahnya. Ibnu Mas'ud berkata : "Kalian hari ini perselisihannya jauh lebih hebat"Jika shaf yang tidak lurus saat sholat jamaah menjadi salah satu indikator adanya ketidakberesan di dalam shaf kaum muslimin, apalagi meninggalkan sholat berjamaah.قم إلى الصلاة متى سمعت النداء ، مهما كانت الظروف "Dirikanlah sholat kapan saja kamu mendengar adzan, bagaimanapun kondisimu".
Shalat Kitaassalaamu’alaikum wr. wb. Bagaimana pun saya haqqul yaqiin bahwa sebagian besar Muslim di Indonesia ini paham betul bahwa shalat adalah tiang agama. Jangankan Muslim, teman saya yang non-Muslim saja banyak yang mengetahui hal tersebut. Sebagai sarjana teknik sipil, saya bisa menjamin bahwa keberadaan tiang dalam sebuah bangunan itu sifatnya sangatlah struktural, bukan sekedar ornamental. Jangankan rubuh, tiang baru retak-retak pun kita harus sudah mulai waspada. Ironisnya, banyak yang meremehkan shalat.  Masih banyak hal yang dalam shalat yang digampangkan oleh sebagian besar jamaah shalat di masjid-masjid, apalagi mereka yang shalat sendirian di rumah. Perlu suara-suara kritis untuk mengumandangkan protes kepada umat ini,Setujuh...ane...  ....  ini...dah tak bantuin teriak2 kemana2  karena banyak diantara mereka yang telah mengabaikan shalatnya. Karena shalat lima waktu itu dianjurkan berjamaah (setidaknya buat laki-laki), dan shalat berjamaah adalah urusan publik, maka menjadi tanggung jawab kita bersama pula untuk meluruskannya.  Semoga tulisan serba ringkas dan sederhana ini bisa membuat kita lebih waspada akan tiang agama kita, sehingga tidak rubuh begitu saja ketika diterpa badai, atau digerogoti oleh rayap secara perlahan. Kerapatan ShafApa susahnya merapatkan shaf? Pertanyaan ini sudah bergayut-gayut dalam pikiran saya sejak SD. Mengapa orang-orang begitu sulit merapatkan shaf? Apakah mereka jijik dengan orang di sebelahnya? Ataukah mereka ingin terlihat ‘terpisah dari yang lain’, dengan kata lain : asal beda? Karena ego, gengsi, atau sajadah yang terlalu lebar? Saya seringkali kecewa menyaksikan bapak-bapak yang selalu tiba duluan sebelum adzan berkumandang, duduk dengan setia menunggu waktu shalat, dengan pakaian yang rapi, kemudian berdzikir dan (kelihatannya) khusyuk sekali. Akan tetapi, ketika berdiri untuk shalat, mereka mengambil jarak terlalu jauh sesuai lebar sajadahnya yang bagus-bagus itu. Ini shalat atau pagelaran fashion sajadah??? Barangkali banyak yang lupa bahwa sajadah itu sama sekali tidak wajib untuk dibawa. Ia bisa digantikan dengan tikar, atau jika tempatnya sudah cukup bersih, lantai marmer atau beton pun sah untuk shalat. Adapun kerapatan shaf adalah syarat bagi kesempurnaan shalat. Apa di negeri ini memang sudah jarang orang yang ingin menyempurnakan shalatnya? Keseriusan BacaanJangan pernah mengadakan survei pengetahuan tentang makna bacaan shalat, karena kelihatannya Anda pasti kecewa! Ketika bacaan hanya menjadi sekedar komat-kamit di mulut dan tidak menghasilkan getaran perasaan apa pun di dalam dada, maka perbedaan antara mereka yang shalat dan dukun yang mencari wangsit di kuburan sangatlah tipis. Barangkali banyak yang akan tersinggung jika dirinya diperbandingkan dengan para pelaku khurafat seperti dukun, akan tetapi maafkanlah perbandingan ini jika sekiranya memang ekstrem, dan pikirlah baik-baik. Apa bedanya? Jika agama ini kita anut atas dasar ketidakmengertian kita, atau kita memutuskan untuk menjadi Muslim dengan niat untung-untungan seperti membeli lotere, maka tidaklah heran jika shalat kita tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pribadi. Jangan banyak berteori tentang bagaimana shalat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, karena yang biasa kita lakukan selama ini hanyalah ‘jurus’ dan ‘mantera’ belaka. ‘Jurus’ adalah gerakan-gerakan shalat, sedangkan bacaan-bacaan yang tidak kita mengerti itu kurang lebih sama saja dengan ‘mantera’. Mana yang Didahulukan?Jika Anda disuruh memilih antara yang bid’ah dan yang wajib, manakah yang akan Anda tunaikan terlebih dahulu? Orang waras pasti memilih yang wajib. Namun kenyataannya, yang wajib dalam shalat justru sering diabaikan, sementara yang bid’ah (harap diingat bahwa bid’ah belum tentu buruk) dipraktekkan secara konsisten. Di masjid-masjid, kebiasaan bersalaman setelah shalat justru lebih konsisten dilakukan daripada menjaga kerapatan shaf atau melaksanakan shalat dengan tuma’ninah. Jangankan para ma’mum, imamnya pun seringkali membaca dengan kecepatan tinggi, sehingga prinsip tuma’ninah hanya menjadi materi hapalan buat anak-anak SD saja. Sulit mengharapkan anak-anak untuk mempraktekkan tuma’ninah jika orang tuanya sendiri shalat lebih cepat dari bayangannya sendiri (ungkapan hiperbola yang dipinjam dari komik Lucky Luke tanpa ijin – red). Menunggu Pionir...  Sebenarnya tidak sulit membiasakan shalat yang benar. Sayangnya, sudah terlanjur mewabah ucapan semacam : “Jadi orang baik itu susah!”. Jika kita yakin bahwa ajaran Islam itu sesuai dengan fitrah, maka sudah barang tentu Islam ini tidak sulit. Justru melanggar aturan Islam itulah yang menyusahkan hati manusia. Ketimbang melaksanakan shalat dengan benar, mengabaikan aturan-aturan shalat sudah pasti lebih menyusahkan, karena akan menimbulkan akibat negatif, atau setidaknya, membuat shalat kita menjadi tidak ‘tepat sasaran’. Mengajak teman-teman sekantor untuk shalat tepat waktu itu tidak sulit. Mengajak mereka untuk shalat di Masjid pun bukan mustahil. Barangkali perubahan tidak akan terjadi dalam sekejap, tapi pasti ada hasilnya. Mengapa banyak yang terlalu takut untuk menjadi pionir?  Mengapa terlalu malu untuk menerima sebutan ‘orang alim’, padahal seorang Muslim memang tidak boleh tidak alim? Mengapa harus menahan diri untuk melakukan perubahan? Mengapa harus menunggu-nunggu orang lain untuk sebuah inisiatif sederhana?Aneh bukan kepalang...  wassalaamu’alaikum wr. wb. kutip: http://akmal.multiply.com/journal/item/524/Shalat_Kita
Remaja Yang Kian Jauh Dari Masjid http://myquran.org/forum/index.php/topic,21025.0.html
Memudarnya peran masjid http://myquran.org/forum/index.php/topic,24405.0.html
Masjid: Rumah Tuhan atau Pusat Pembangunan Masyarakat ? http://myquran.org/forum/index.php/topic,9569.0.html
Masjid: bukan hanya utk STP http://myquran.org/forum/index.php/topic,23892.0.html
Membangun Pusat Bisnis dari Masjid http://myquran.org/forum/index.php/topic,688.0.html
kreatif dalam dakwah di masjid http://myquran.org/forum/index.php/topic,12603.0.html
Topik: Remaja Yang Kian Jauh Dari Masjid http://myquran.org/forum/index.php/topic,21025.0.html
Sholat berjamaah, kriteria masjid, dan adzan http://myquran.org/forum/index.php/topic,9127.0.html
Ketika Mesjid menjadi Hotel http://myquran.org/forum/index.php/topic,6737.0.html
Re: Shalat Maghrib di Jakarta  http://myquran.org/forum/index.php/topic,30739.0.html
Jika shaf yang tidak lurus saat sholat jamaah menjadi salah satu indikator adanya ketidakberesan di dalam shaf kaum muslimin, apalagi meninggalkan sholat berjamaah. http://myquran.org/forum/index.php/topic,26402.msg637363.html#msg637363
Hanya yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. 9:1 http://www12.asphost4free.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18
|